Path: Top / Skripsi / Ushuluddin / 2007

Hubungan Agama dan Negara dalam Pemikiran Yusuf Qardawi dan Muhammad Asad

Undergraduate Theses from jtptiain / 2013-04-30 10:10:23
Oleh : Farih Afifi NIM: 4102033, Fak.Ushuludin IAIN Walisongo
Dibuat : 2007-02-05, dengan 7 file

Keyword : Hubungan,Agama,Negara,Yusuf Qardawi,Muhammad Asad,syari'ah,formalistik
Url : http://

Menurut Qardawi, kaum muslimin di sepanjang sejarahnya tidak mengenal pemisahan antara agama dan negara, kecuali setelah munculnya pemikiran sekuler pada zaman sekarang. Menurut Muhammad Asad, pengertian negara Islam adalah negara yang di dalam konstitusinya memuat ketentuan syariat Islam sehingga dalam praktek ketatanegaraannya menjalankan norma-norma yang tercantum dalam Al-Qur'an dan hadis. Masalah yang muncul yaitu bagaimana konsep Yusuf Qardawi dan Muhammad Asad tentang relasi agama dan negara? Bagaimana persamaan dan perbedaan konsep Yusuf Qardawi dan Muhammad Asad tentang relasi agama dan negara? Bagaimana relevansi konsep Yusuf Qardawi dan Muhammad Asad tentang relasi agama dan negara dengan realitas masyarakat dan Negara Indonesia? Penulisan ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Dalam membahas dan menelaah data, digunakan metode deskriptif analisis, dan komparatif dengan pendekatan filosofis (philosophical). Artinya meskipun bersumber dari kajian buku, namun penelitian mengikuti cara dan arah pikiran filsuf yang dijadikan topik penelitian, maka peneliti hanya mengikuti alur pikiran Yusuf Qardawi dan Muhammad Asad. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa persamaan Qardawi dengan Asad, bahwa pertama, keduanya berpendirian yang sama yaitu agama dan negara tidak bisa dipisahkan. Kedua, dua tokoh tersebut berpendapat, ajaran Islam memiliki keistimewaan yang bila diterapkan dalam kehidupan negara maka sesuai dengan fitrah manusia. Ketiga, syari'at Islam memiliki dua sanksi yaitu duniawi dan akhirat, ini akan membangun kesan pada masyarakat bahwa melakukan maksiat dan tindak kejahatan meskipun bisa selamat di dunia tapi ada peradilan akhirat. Hal ini akan mengingatkan seseorang untuk lebih hati-hati agar tidak melakukan perbuatan yang dilarang Tuhan. Adapun perbedaan kedua tokoh tersebut yaitu pertama, Qardawi lebih mementingkan pelaksanaan substansi ajaran Islam, sedangkan Asad lebih menghendaki formalisasi syari'at Islam dalam konstitusi negara. Kedua, Qardawi tidak mementingkan bentuk negara dengan label Islam serta tidak mengharuskan bentuk pemerintahan dalam perspektif Islam. Yang penting nilai-nilai ajaran Islam dimanifestasikan dalam kehidupan nyata. Sedangkan Asad meminta ketegasan bentuk negara dan pemerintahan bercorak Islam seutuhnya. Ketiga, Qardawi bahwa dalam konstitusi negara boleh dicantumkan dan boleh juga tidak dicantumkan tentang negara Islam. Sedangkan Asad menghendaki dicantumkannya syari'at Islam secara tegas dalam konstitusi negara. Apabila konsep Qardawi dihubungkan dengan tiga teori hubungan agama dan negara, maka tampaknya ia masuk dalam kategori kelompok kedua yaitu paradigma simbiotik. Alasannya karena dalam perspektif Qardawi, bahwa kaum muslimin di sepanjang sejarahnya tidak mengenal pemisahan antara agama dan negara, kecuali setelah munculnya pemikiran sekularisme pada zaman sekarang. Asad dapat dikategorikan masuk kelompok yang pertama yaitu paradigma integralistik. Alasannya karena Asad menghendaki syari'at Islam dicantumkan dalam konstitusi, ini artinya Asad cenderung pada formalisasi syari'at Islam atau Islam dalam arti legal formalistik

Deskripsi Alternatif :

Menurut Qardawi, kaum muslimin di sepanjang sejarahnya tidak mengenal pemisahan antara agama dan negara, kecuali setelah munculnya pemikiran sekuler pada zaman sekarang. Menurut Muhammad Asad, pengertian negara Islam adalah negara yang di dalam konstitusinya memuat ketentuan syariat Islam sehingga dalam praktek ketatanegaraannya menjalankan norma-norma yang tercantum dalam Al-Qur'an dan hadis. Masalah yang muncul yaitu bagaimana konsep Yusuf Qardawi dan Muhammad Asad tentang relasi agama dan negara? Bagaimana persamaan dan perbedaan konsep Yusuf Qardawi dan Muhammad Asad tentang relasi agama dan negara? Bagaimana relevansi konsep Yusuf Qardawi dan Muhammad Asad tentang relasi agama dan negara dengan realitas masyarakat dan Negara Indonesia? Penulisan ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Dalam membahas dan menelaah data, digunakan metode deskriptif analisis, dan komparatif dengan pendekatan filosofis (philosophical). Artinya meskipun bersumber dari kajian buku, namun penelitian mengikuti cara dan arah pikiran filsuf yang dijadikan topik penelitian, maka peneliti hanya mengikuti alur pikiran Yusuf Qardawi dan Muhammad Asad. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa persamaan Qardawi dengan Asad, bahwa pertama, keduanya berpendirian yang sama yaitu agama dan negara tidak bisa dipisahkan. Kedua, dua tokoh tersebut berpendapat, ajaran Islam memiliki keistimewaan yang bila diterapkan dalam kehidupan negara maka sesuai dengan fitrah manusia. Ketiga, syari'at Islam memiliki dua sanksi yaitu duniawi dan akhirat, ini akan membangun kesan pada masyarakat bahwa melakukan maksiat dan tindak kejahatan meskipun bisa selamat di dunia tapi ada peradilan akhirat. Hal ini akan mengingatkan seseorang untuk lebih hati-hati agar tidak melakukan perbuatan yang dilarang Tuhan. Adapun perbedaan kedua tokoh tersebut yaitu pertama, Qardawi lebih mementingkan pelaksanaan substansi ajaran Islam, sedangkan Asad lebih menghendaki formalisasi syari'at Islam dalam konstitusi negara. Kedua, Qardawi tidak mementingkan bentuk negara dengan label Islam serta tidak mengharuskan bentuk pemerintahan dalam perspektif Islam. Yang penting nilai-nilai ajaran Islam dimanifestasikan dalam kehidupan nyata. Sedangkan Asad meminta ketegasan bentuk negara dan pemerintahan bercorak Islam seutuhnya. Ketiga, Qardawi bahwa dalam konstitusi negara boleh dicantumkan dan boleh juga tidak dicantumkan tentang negara Islam. Sedangkan Asad menghendaki dicantumkannya syari'at Islam secara tegas dalam konstitusi negara. Apabila konsep Qardawi dihubungkan dengan tiga teori hubungan agama dan negara, maka tampaknya ia masuk dalam kategori kelompok kedua yaitu paradigma simbiotik. Alasannya karena dalam perspektif Qardawi, bahwa kaum muslimin di sepanjang sejarahnya tidak mengenal pemisahan antara agama dan negara, kecuali setelah munculnya pemikiran sekularisme pada zaman sekarang. Asad dapat dikategorikan masuk kelompok yang pertama yaitu paradigma integralistik. Alasannya karena Asad menghendaki syari'at Islam dicantumkan dalam konstitusi, ini artinya Asad cenderung pada formalisasi syari'at Islam atau Islam dalam arti legal formalistik

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID Publisherjtptiain
OrganisasiF
Nama KontakMiswan
AlamatJl. Prof. Dr. Hamka Km. 2 Ngaliyan
KotaSemarang
DaerahJawa Tengah
NegaraIndonesia
Telepon024 7603921
Fax024 7619100
E-mail Administratormiswant@yahoo.com
E-mail CKOar_mandka@yahoo.com

Print ...

Kontributor...

  • , Diupload oleh :

Download...


tumblr analytics

(Sejak 21 Juni 2010)
View My Stats