Path: Top / Skripsi / Syariah / 2006

Kriteria Minimal Nafkah Wajib Kepada Istri (Study Analisis Pendapat Imam Syafii)

Undergraduate Theses from JTPTIAIN / 2012-11-21 08:25:39
Oleh : Uswatun Hasanah (NIM: 2101297), Fak.Syari\'ah IAIN Walisongo
Dibuat : 2006-07-07, dengan 0 file

Keyword : Kriteria,Nafkah Wajib,Istri,Imam Syafii

Syariat mewajibkan suami untuk menafkahi isterinya, karena dengan adanya ikatan perkawinan yang sah itu seorang isteri menjadi terikat semata-mata kepada suaminya, dan tertahan sebagai miliknya. Karena itu ia berhak menikmatinya secara terus-menerus. Isteri wajib taat kepada suami, tinggal di rumahnya, mengatur rumah tangganya, memelihara dan mendidik anak-anaknya. Sebaliknya bagi suami berkewajiban memenuhi kebutuhannya, dan memberi belanja kepadanya, selama ikatan suami isteri masih berjalan, dan isteri tidak durhaka atau karena ada hal-hal lain yang menghalangi penerimaan belanja. Oleh karena itu, apabila terjadi perceraian, suami tidak boleh menarik kembali pemberian yang telah diberikan kepada istrinya. Al-Qur\'an dan hadis tidak menyebutkan dengan tegas kadar atau jumlah nafkah, baik minimal atau maksimal, yang wajib diberikan suami kepada isterinya. Yang menjadi perumusan masalah, bagaimana pendapat Imam Syafi\'i tentang kriteria minimal nafkah wajib kepada istri? Bagaimana metode istinbath hukum Imam Syafi\'i tentang kriteria minimal nafkah wajib kepada istri? Bagaimana relevansi pendapat Imam Syafi\'i tentang kriteria minimal nafkah wajib kepada istri pada masa sekarang. Adapun metode penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut: pengumpulan data dilakukan dalam bentuk penelitian kepustakaan (library research). Sumber primer, yaitu karya-karya Imam Syafi\'i yang berhubungan dengan judul di atas diantaranya: (1) al-Umm. Sedangkan sumber sekunder, berupa tulisan-tulisan para penulis yang membicarakan Imam Syafi\'i. Dalam menganalisa data, penulis menggunakan metode deskriptif analisis. Penulis juga menggunakan metode hermeneutika.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Imam Syafi\'i, seorang suami mempunyai kewajiban memberi nafkah pada istrinya. Ia menetapkan bahwa setiap hari, suami yang mampu, wajib membayar nafkah sebanyak 2 mudd (1.350 gram gandum/beras), suami yang kondisinya menengah 1,5 mudd dan suami yang tidak mampu wajib membayar nafkah sebanyak 1 mudd (675 gram gandum/beras). Dalam menentukan ukuran minimal nafkah yang wajib diberikan suami kepada istri, maka Imam Syafi\'i Al-Qur\'an surat at-Thalaq (65) ayat 7 yang artinya: Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan (Q.S. at-Thalaq: 7)

Deskripsi Alternatif :

Syariat mewajibkan suami untuk menafkahi isterinya, karena dengan adanya ikatan perkawinan yang sah itu seorang isteri menjadi terikat semata-mata kepada suaminya, dan tertahan sebagai miliknya. Karena itu ia berhak menikmatinya secara terus-menerus. Isteri wajib taat kepada suami, tinggal di rumahnya, mengatur rumah tangganya, memelihara dan mendidik anak-anaknya. Sebaliknya bagi suami berkewajiban memenuhi kebutuhannya, dan memberi belanja kepadanya, selama ikatan suami isteri masih berjalan, dan isteri tidak durhaka atau karena ada hal-hal lain yang menghalangi penerimaan belanja. Oleh karena itu, apabila terjadi perceraian, suami tidak boleh menarik kembali pemberian yang telah diberikan kepada istrinya. Al-Qur\'an dan hadis tidak menyebutkan dengan tegas kadar atau jumlah nafkah, baik minimal atau maksimal, yang wajib diberikan suami kepada isterinya. Yang menjadi perumusan masalah, bagaimana pendapat Imam Syafi\'i tentang kriteria minimal nafkah wajib kepada istri? Bagaimana metode istinbath hukum Imam Syafi\'i tentang kriteria minimal nafkah wajib kepada istri? Bagaimana relevansi pendapat Imam Syafi\'i tentang kriteria minimal nafkah wajib kepada istri pada masa sekarang. Adapun metode penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut: pengumpulan data dilakukan dalam bentuk penelitian kepustakaan (library research). Sumber primer, yaitu karya-karya Imam Syafi\'i yang berhubungan dengan judul di atas diantaranya: (1) al-Umm. Sedangkan sumber sekunder, berupa tulisan-tulisan para penulis yang membicarakan Imam Syafi\'i. Dalam menganalisa data, penulis menggunakan metode deskriptif analisis. Penulis juga menggunakan metode hermeneutika.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut Imam Syafi\'i, seorang suami mempunyai kewajiban memberi nafkah pada istrinya. Ia menetapkan bahwa setiap hari, suami yang mampu, wajib membayar nafkah sebanyak 2 mudd (1.350 gram gandum/beras), suami yang kondisinya menengah 1,5 mudd dan suami yang tidak mampu wajib membayar nafkah sebanyak 1 mudd (675 gram gandum/beras). Dalam menentukan ukuran minimal nafkah yang wajib diberikan suami kepada istri, maka Imam Syafi\'i Al-Qur\'an surat at-Thalaq (65) ayat 7 yang artinya: Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan (Q.S. at-Thalaq: 7)

Beri Komentar ?#(1) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJTPTIAIN
OrganisasiFak.Syari\'ah IAIN Walisongo
Nama KontakPerpustakaan
AlamatJl. Prof. Dr. Hamka Km.2 Ngaliyan
KotaSemarang
DaerahJawa Tengah
NegaraIndonesia
Telepon024 7603921
Fax
E-mail Administratorjorang40@ymail.com
E-mail CKOjorang40@ymail.com

Print ...

Kontributor...

  • Diupload oleh : ely_fauzah@jtptiain

Download...


tumblr analytics

(Sejak 21 Juni 2010)
View My Stats