Path: Top / Skripsi / Tarbiyah / 2006

Makna Fithrah Manusia dalam Al-Qur'an dan Aktualisasinya dalam Pendidikan Islam (Telaah Tafsir Tematik Perspektif Pendidikan Islam)

Undergraduate Theses from jtptiain / 2013-10-14 16:24:01
Oleh : Achmad Farichin (3100210), Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo
Dibuat : 2006-09-01, dengan 7 file

Keyword : Fitrah Manusia; Aktualisasi Fitrah; Pendidikan; Etos Kerja
Url : http://

Dari berbagai uraian panjang dan analisis yang telah penulis tampilkan pada bab-bab terdahulu dalam skripsi ini, akhirnya dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:


1. Pada dasarnya secara definitif, makna fithrah manusia yang terkandung dalam al-Qur'an adalah penciptaan awal mula atau kejadian asal. Akan tetapi setelah diadakan upaya penafsiran oleh para mufassir, sehingga pada akhirnya ditemukan beberapa makna fithrah manusia yang terkandung di dalamnya diantaranya: fithrah berarti suci (thuhr), Islam (Dienul Islam), mengakui ke-Esa-an Allah (al-Tauhid), murni (al-Ikhlas), potensi dasar manusia untuk ma'rifatullah, dan fithrah berarti tabi'at alami yang dimiliki manusia (Human Nature) yang kemudian oleh penulis diambil kesimpulan bahwa pada prakteknya fithrah bukan sekedar peng-Esa-an terhadap Allah dan pengakuan terhadap agama Allah semata, akan tetapi lebih komplek dari pada itu bahwa fithrah adalah segenap potensi yang dianugerahkan Allah kepada seluruh umat manusia untuk bekal kekhalifahannya di dunia.


2. Dari sudut pandang pendidikan, karena fithrah itu harus berinteraksi dan berdialog dengan lingkungan eksternal, Maka agar mampu berdialog memerlukan suatu lembaga yang lebih kondusif untuk mengaktualisasikan serta menumbuh kembangkan fithrah tersebut. Dengan demikian pendidikan dipandang sebagai sebuah upaya yang paling strategis untuk mengarahkan fithrah itu secara optimal dan terpadu sepanjang hayatnya.


Konsep fithrah juga menuntut agar pendidikan Islam harus bertujuan mengarahkan pendidikan kepada terjalinnya ikatan kuat seorang manusia dengan Allah agar segalanya bisa bernilai ibadah.


Selain itu sebagai upaya untuk mendukung perkembangan fithrah manusia diperlukan penciptaan lingkungan yang kondusif secara berkesinambungan, baik dari pihak keluarga sekolah maupun masyarakat.


Manusia beriman yang paling ideal adalah apabila dalam kehidupannya terdapat keserasian dan keseimbangan antara kedalaman penghayatan agama dengan kegiatan yang mengarah kepada peningkatan kesejahteraan. Maka manusia yang mengatakan dirinya Islam, dia harus lebih dinamis dan maju dalam kehidupannya.


Dalam rangka mengupayakan agar manusia tetap "survive", maka harus ada korelasi yang nyata antara keimanan, ketakwaan dengan kegairahan dalam mengupayakan kesejahteraan hidup. Hal inilah yang menjadi pendorong atau motifasi tumbuhnya "kerja" atau semangat kerja dengan istilah "Etos Kerja". Kerja atau amal harus diniati untuk mengabdi kepada Allah (li ta'abbudi ila Allah), berangkat dari itulah maka kerja bisa bernilai ibadah, oleh karenanya iman dan takwa harus dihayati dengan sungguh-sungguh agar dapat menumbuhkan sikap kerja atau amal dengan penuh kesungguhan, disiplin, tertib dan bertanggung jawab.


Hal ini tersirat makna bahwa manusia dituntut untuk mendayagunakan potensi dasarnya (fithrah), agar di dalam mendayagunakan potensinya bisa mencapai batasan yang ditetapkan (target) dengan sukses, maka manusia harus melaksanakannya dengan sungguh-sungguh (etos kerja) yang dilandasi dengan motifasi agama, agar semua itu dapat bernilai ibadah

Deskripsi Alternatif :

Dari berbagai uraian panjang dan analisis yang telah penulis tampilkan pada bab-bab terdahulu dalam skripsi ini, akhirnya dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:


1. Pada dasarnya secara definitif, makna fithrah manusia yang terkandung dalam al-Qur'an adalah penciptaan awal mula atau kejadian asal. Akan tetapi setelah diadakan upaya penafsiran oleh para mufassir, sehingga pada akhirnya ditemukan beberapa makna fithrah manusia yang terkandung di dalamnya diantaranya: fithrah berarti suci (thuhr), Islam (Dienul Islam), mengakui ke-Esa-an Allah (al-Tauhid), murni (al-Ikhlas), potensi dasar manusia untuk ma'rifatullah, dan fithrah berarti tabi'at alami yang dimiliki manusia (Human Nature) yang kemudian oleh penulis diambil kesimpulan bahwa pada prakteknya fithrah bukan sekedar peng-Esa-an terhadap Allah dan pengakuan terhadap agama Allah semata, akan tetapi lebih komplek dari pada itu bahwa fithrah adalah segenap potensi yang dianugerahkan Allah kepada seluruh umat manusia untuk bekal kekhalifahannya di dunia.


2. Dari sudut pandang pendidikan, karena fithrah itu harus berinteraksi dan berdialog dengan lingkungan eksternal, Maka agar mampu berdialog memerlukan suatu lembaga yang lebih kondusif untuk mengaktualisasikan serta menumbuh kembangkan fithrah tersebut. Dengan demikian pendidikan dipandang sebagai sebuah upaya yang paling strategis untuk mengarahkan fithrah itu secara optimal dan terpadu sepanjang hayatnya.


Konsep fithrah juga menuntut agar pendidikan Islam harus bertujuan mengarahkan pendidikan kepada terjalinnya ikatan kuat seorang manusia dengan Allah agar segalanya bisa bernilai ibadah.


Selain itu sebagai upaya untuk mendukung perkembangan fithrah manusia diperlukan penciptaan lingkungan yang kondusif secara berkesinambungan, baik dari pihak keluarga sekolah maupun masyarakat.


Manusia beriman yang paling ideal adalah apabila dalam kehidupannya terdapat keserasian dan keseimbangan antara kedalaman penghayatan agama dengan kegiatan yang mengarah kepada peningkatan kesejahteraan. Maka manusia yang mengatakan dirinya Islam, dia harus lebih dinamis dan maju dalam kehidupannya.


Dalam rangka mengupayakan agar manusia tetap "survive", maka harus ada korelasi yang nyata antara keimanan, ketakwaan dengan kegairahan dalam mengupayakan kesejahteraan hidup. Hal inilah yang menjadi pendorong atau motifasi tumbuhnya "kerja" atau semangat kerja dengan istilah "Etos Kerja". Kerja atau amal harus diniati untuk mengabdi kepada Allah (li ta'abbudi ila Allah), berangkat dari itulah maka kerja bisa bernilai ibadah, oleh karenanya iman dan takwa harus dihayati dengan sungguh-sungguh agar dapat menumbuhkan sikap kerja atau amal dengan penuh kesungguhan, disiplin, tertib dan bertanggung jawab.


Hal ini tersirat makna bahwa manusia dituntut untuk mendayagunakan potensi dasarnya (fithrah), agar di dalam mendayagunakan potensinya bisa mencapai batasan yang ditetapkan (target) dengan sukses, maka manusia harus melaksanakannya dengan sungguh-sungguh (etos kerja) yang dilandasi dengan motifasi agama, agar semua itu dapat bernilai ibadah

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID Publisherjtptiain
OrganisasiFakultas Tarbiyah IAIN Walisongo
Nama KontakMiswan
AlamatJl. Prof. Dr. Hamka Km. 2 Ngaliyan
KotaSemarang
DaerahJawa Tengah
NegaraIndonesia
Telepon024 7603921
Fax024 7619100
E-mail Administratormiswant@yahoo.com
E-mail CKOar_mandka@yahoo.com

Print ...

Kontributor...

  • , Diupload oleh :

Download...


tumblr analytics

(Sejak 21 Juni 2010)
View My Stats