Path: Top / Skripsi / Tarbiyah / 2005

Pola Pendidikan Agama Islam Bagi Anak Dalam Keluarga Penyadap Nyiur (Studi Kasus Di Desa Binangun Kec. Bantarsari Kab. Cilacap).

Undergraduate Theses from JTPTIAIN / 2006-06-15 14:40:49
Oleh : Untung Susanto (3100175)., Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang
Dibuat : 2005-08-02, dengan 8 file

Keyword : Pendidikan Agama Islam, Anak, Keluarga, Penyadap Nyiur, Studi kasus, Binangun, Bantarsari, Cilacap
Url : http://

Untung Susanto (NIM. 3100175). Pola Pendidikan Agama Islam Bagi Anak Dalam Keluarga Penyadap Nyiur (Studi Kasus Di Desa Binangun Kec. Bantarsari Kab. Cilacap). Skripsi, Semarang: Program Strata 1, Jurusan Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Negeri Walisongo, 2005.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; 1). bagaimana penyadap nyiur Desa Binangun Kec. Bantarsari Kab. Cilacap sebagai orang tua dan pendidik yang beragama Islam dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga, dan 2) bagaimana pola pendidikan yang digunakan oleh penyadap nyiur dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga. Penelitian ini dilaksanakan selama 35 hari, mulai tanggal 20 Januari sampai dengan tanggal 15 Pebruari 2005 dan tanggal 7 – 16 Agustus 2005.
Penelitian ini menggunakan metode wawancara, metode pengamatan dan metode dokumentasi, dengan Teknis Analisis Deskriptif Kualitatif. Data penelitian yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan agama Islam bagi anak penyadap nyiur dimulai sejak anak usia dini dan dilaksanakan di lingkungan keluarga masing-masing melalui kehidupan sehari-hari, di masjid atau di mushala dan di rumah ustadz ngaji. Sedangkan untuk di sekolah formal, tidak semua penyadap nyiur menyekolahkan anaknya hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP.) dan Sekolah Menengah Atas (SMA.). Hal ini dapat diketahui dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa empat keluarga penyadap nyiur masih menyekolahkan anaknya dan satu penyadap nyiur tidak menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yakni Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP.). Dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga, penyadap nyiur menggunakan metode pembiasaan, peneladanan dan metode nasehat yang merupakan metode pendidikan paling sesuai di lingkungan keluarga. Materi yang diajarkan pada anak oleh penyadap nyiur yaitu semua materi agama Islam yang meliputi akidah, akhlak dan syariah Islam secara bersamaan dalam aktifitas kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga. Adapun pola pendidikan yang digunakan oleh penyadap nyiur dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga terdiri dari pola pendidikan yang memiliki kecenderungan otoriter, demokrasi dan permisif. Penyadap nyiur yang menggunakan pola pendidikan yang memiliki kecenderungan otoriter dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga berjumlah dua penyadap nyiur, yakni Sakiman dan Kamsir. Hal ini dapat diketahui dari hasil penelitian bahwa dalam mendidik anaknya tentang agama Islam, mereka selalu mengedepankan pemaksaan kehendak pada anak, melarang anaknya bertindak berdasarkan kehendak sendiri, serta memarahi, bahkan mereka tidak segan-segan untuk menghukum anaknya yang melakukan kesalahan. Sedangkan penyadap nyiur yang menggunakan pola pendidikan demokrasi dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga berjumlah dua orang, yaitu Kamilin dan Jamaludin. Mereka menggunakan pola pendidikan demokrasi dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga karena dalam mendidik anaknya, mereka melakukan dengan cara mengarahkan, memperhatikan dan memperingatkan anaknya untuk berbuat dan bersikap sesuai dengan ajaran agama Islam. Hal ini dilakukan karena penyadap nyiur mengakui adanya kemampuan bawaan (fitrah) anak yang telah dibawa sejak masa kejadiannya. Sedangkan penyadap nyiur yang menggunakan pola pendidikan yang memiliki kecenderungan permisif dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga hanya terdapat satu orang, yakni Jamingun. Hal ini dikarenakan, ia acuh terhadap pendidikan agama Islam bagi anaknya di lingkungan keluarga. Ia juga membebaskan dan mempercayakan pada anaknya untuk berbuat dan bersikap atas kehendaknya sendiri.
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi para civitas akademika, para mahasiswa, para pengajar mata kuliah jurusan dan program studi di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang.

Deskripsi Alternatif :

Untung Susanto (NIM. 3100175). Pola Pendidikan Agama Islam Bagi Anak Dalam Keluarga Penyadap Nyiur (Studi Kasus Di Desa Binangun Kec. Bantarsari Kab. Cilacap). Skripsi, Semarang: Program Strata 1, Jurusan Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam Negeri Walisongo, 2005.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; 1). bagaimana penyadap nyiur Desa Binangun Kec. Bantarsari Kab. Cilacap sebagai orang tua dan pendidik yang beragama Islam dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga, dan 2) bagaimana pola pendidikan yang digunakan oleh penyadap nyiur dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga. Penelitian ini dilaksanakan selama 35 hari, mulai tanggal 20 Januari sampai dengan tanggal 15 Pebruari 2005 dan tanggal 7 – 16 Agustus 2005.
Penelitian ini menggunakan metode wawancara, metode pengamatan dan metode dokumentasi, dengan Teknis Analisis Deskriptif Kualitatif. Data penelitian yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan agama Islam bagi anak penyadap nyiur dimulai sejak anak usia dini dan dilaksanakan di lingkungan keluarga masing-masing melalui kehidupan sehari-hari, di masjid atau di mushala dan di rumah ustadz ngaji. Sedangkan untuk di sekolah formal, tidak semua penyadap nyiur menyekolahkan anaknya hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP.) dan Sekolah Menengah Atas (SMA.). Hal ini dapat diketahui dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa empat keluarga penyadap nyiur masih menyekolahkan anaknya dan satu penyadap nyiur tidak menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yakni Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP.). Dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga, penyadap nyiur menggunakan metode pembiasaan, peneladanan dan metode nasehat yang merupakan metode pendidikan paling sesuai di lingkungan keluarga. Materi yang diajarkan pada anak oleh penyadap nyiur yaitu semua materi agama Islam yang meliputi akidah, akhlak dan syariah Islam secara bersamaan dalam aktifitas kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga. Adapun pola pendidikan yang digunakan oleh penyadap nyiur dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga terdiri dari pola pendidikan yang memiliki kecenderungan otoriter, demokrasi dan permisif. Penyadap nyiur yang menggunakan pola pendidikan yang memiliki kecenderungan otoriter dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga berjumlah dua penyadap nyiur, yakni Sakiman dan Kamsir. Hal ini dapat diketahui dari hasil penelitian bahwa dalam mendidik anaknya tentang agama Islam, mereka selalu mengedepankan pemaksaan kehendak pada anak, melarang anaknya bertindak berdasarkan kehendak sendiri, serta memarahi, bahkan mereka tidak segan-segan untuk menghukum anaknya yang melakukan kesalahan. Sedangkan penyadap nyiur yang menggunakan pola pendidikan demokrasi dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga berjumlah dua orang, yaitu Kamilin dan Jamaludin. Mereka menggunakan pola pendidikan demokrasi dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga karena dalam mendidik anaknya, mereka melakukan dengan cara mengarahkan, memperhatikan dan memperingatkan anaknya untuk berbuat dan bersikap sesuai dengan ajaran agama Islam. Hal ini dilakukan karena penyadap nyiur mengakui adanya kemampuan bawaan (fitrah) anak yang telah dibawa sejak masa kejadiannya. Sedangkan penyadap nyiur yang menggunakan pola pendidikan yang memiliki kecenderungan permisif dalam mendidik anaknya tentang agama Islam di lingkungan keluarga hanya terdapat satu orang, yakni Jamingun. Hal ini dikarenakan, ia acuh terhadap pendidikan agama Islam bagi anaknya di lingkungan keluarga. Ia juga membebaskan dan mempercayakan pada anaknya untuk berbuat dan bersikap atas kehendaknya sendiri.
Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan akan menjadi bahan informasi dan masukan bagi para civitas akademika, para mahasiswa, para pengajar mata kuliah jurusan dan program studi di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJTPTIAIN
OrganisasiF
Nama KontakMiswan
AlamatJl. Prof. Dr. Hamka Km. 2 Ngaliyan
KotaSemarang
DaerahJawa Tengah
NegaraIndonesia
Telepon024 7603921
Fax024 7619100
E-mail Administratormiswant@yahoo.com
E-mail CKOar_mandka@yahoo.com

Print ...

Kontributor...

  • Diupload oleh : ar_mandka@jtptiain

Download...


tumblr analytics

(Sejak 21 Juni 2010)
View My Stats