Path: Top / Skripsi / Dakwah / 2005

Konsep Emosional Quotient (EQ) Daniel Goleman dan Aplikasinya Terhadap Pembinaan Mental Remaja (Tinjauan Bimbingan Konseling Islam)

Undergraduate Theses from jtptiain / 2013-06-21 09:31:41
Oleh : Moch. Hamdani (1100100), Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang
Dibuat : 2005-08-12, dengan 9 file

Keyword : Kecerdasan Emosional, Emotional Quotient (EQ), Pembinaan Mental, Remaja, Bimbingan dan Konseling Islam
Url : http://

Masa remaja dikenal dengan masa storm and stress dimana terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis yang bervariasi. dan setiap individu memiliki variasi tersendiri. Masa pubertas sendiri berada tumpang tindih antara masa anak dan masa remaja, sehingga kesulitan pada masa tersebut dapat menyebabkan remaja mengalami kesulitan menghadapi fase-fase perkembangan selanjutnya. Pada fase itu remaja mengalami perubahan dalam sistem kerja hormon dalam tubuhnya dan hal ini memberi dampak baik pada bentuk fisik (terutama organ-organ seksual) dan psikis terutama emosi.Dunia remaja dipenuhi paradoks, apakah ada kekerasan di sekolah atau apakah sekarang sudah lebih aman? Apakah harus cemas tentang obat-obatan atau tidak? Tampaknya, remaja zaman sekarang perlu dibimbing dalam lebih banyak bidang daripada dahulu, namun agaknya mereka enggan mengizinkan untuk memasuki dunia mereka. Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari bermacam pengaruh, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah dan teman-teman sebaya serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Masa remaja yang identik dengan lingkungan sosial tempat berinteraksi, membuat mereka dituntut untuk dapat menyesuaikan diri secara efektif. Bila aktivitas-aktivitas yang dijalani di sekolah (pada umumnya masa remaja lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah) tidak memadai untuk memenuhi tuntutan gejolak energinya, maka remaja seringkali meluapkan kelebihan energinya ke arah yang tidak positif, misalnya tawuran. Hal ini menunjukkan betapa besar gejolak emosi yang ada dalam diri remaja bila berinteraksi dalam lingkungannya. Mengingat bahwa masa remaja merupakan masa yang paling banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan teman-teman sebaya dan dalam rangka menghindari hal-hal negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain, remaja hendaknya memahami dan memiliki apa yang disebut kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional ini terlihat dalam hal-hal seperti bagaimana remaja mampu untuk memberi kesan yang baik tentang dirinya, mampu mengungkapkan dengan baik emosinya sendiri, berusaha menyetarakan diri dengan lingkungan, dapat mengendalikan perasaan dan mampu mengungkapkan reaksi emosi sesuai dengan waktu dan kondisi yang ada sehingga interaksi dengan orang lain dapat terjalin dengan lancar dan efektif. Banyak orang tua yang mengkhawatirkan anak remajanya, apakah ia akan terjebak dalam lubang-lubang prilaku yang negatif? Atau akankah mereka akan mengikuti jejak orang tua yang menjadi harapan orang tua pada anaknya? Dengan memanfaatkan penelitian yang menggemparkan tentang otak dan perilaku, Dr. Daniel Goleman Ph.D memperlihatkan faktor-faktor yang terkait mengapa orang yang ber-IQ tinggi gagal dan ber-IQ sedang-sedang menjadi sangat sukses. Faktor-faktor ini mengacu pada suatu cara lain untuk menjadi cerdas-cara yang disebutnya kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional mencakup kesadaran diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri, empati dan kecakapan sosial. Ini merupakan ciri-ciri yang menandai orang-orang yang menonjol dalam kehidupan nyata: yang memiliki hubungan dekat yang hangat, yang menjadi bintang di tempat kerjanya. Ini juga merupakan ciri-ciri utama karakter dan disiplin diri, altruisme dan belas kasih-kemampuan-kemampuan dasar yang dibutuhkan apabila kita mengharapkan terciptanya masyarakat yang sejahtera.

Deskripsi Alternatif :

Masa remaja dikenal dengan masa storm and stress dimana terjadi pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis yang bervariasi. dan setiap individu memiliki variasi tersendiri. Masa pubertas sendiri berada tumpang tindih antara masa anak dan masa remaja, sehingga kesulitan pada masa tersebut dapat menyebabkan remaja mengalami kesulitan menghadapi fase-fase perkembangan selanjutnya. Pada fase itu remaja mengalami perubahan dalam sistem kerja hormon dalam tubuhnya dan hal ini memberi dampak baik pada bentuk fisik (terutama organ-organ seksual) dan psikis terutama emosi.Dunia remaja dipenuhi paradoks, apakah ada kekerasan di sekolah atau apakah sekarang sudah lebih aman? Apakah harus cemas tentang obat-obatan atau tidak? Tampaknya, remaja zaman sekarang perlu dibimbing dalam lebih banyak bidang daripada dahulu, namun agaknya mereka enggan mengizinkan untuk memasuki dunia mereka. Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari bermacam pengaruh, seperti lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah dan teman-teman sebaya serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Masa remaja yang identik dengan lingkungan sosial tempat berinteraksi, membuat mereka dituntut untuk dapat menyesuaikan diri secara efektif. Bila aktivitas-aktivitas yang dijalani di sekolah (pada umumnya masa remaja lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah) tidak memadai untuk memenuhi tuntutan gejolak energinya, maka remaja seringkali meluapkan kelebihan energinya ke arah yang tidak positif, misalnya tawuran. Hal ini menunjukkan betapa besar gejolak emosi yang ada dalam diri remaja bila berinteraksi dalam lingkungannya. Mengingat bahwa masa remaja merupakan masa yang paling banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan teman-teman sebaya dan dalam rangka menghindari hal-hal negatif yang dapat merugikan dirinya sendiri dan orang lain, remaja hendaknya memahami dan memiliki apa yang disebut kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional ini terlihat dalam hal-hal seperti bagaimana remaja mampu untuk memberi kesan yang baik tentang dirinya, mampu mengungkapkan dengan baik emosinya sendiri, berusaha menyetarakan diri dengan lingkungan, dapat mengendalikan perasaan dan mampu mengungkapkan reaksi emosi sesuai dengan waktu dan kondisi yang ada sehingga interaksi dengan orang lain dapat terjalin dengan lancar dan efektif. Banyak orang tua yang mengkhawatirkan anak remajanya, apakah ia akan terjebak dalam lubang-lubang prilaku yang negatif? Atau akankah mereka akan mengikuti jejak orang tua yang menjadi harapan orang tua pada anaknya? Dengan memanfaatkan penelitian yang menggemparkan tentang otak dan perilaku, Dr. Daniel Goleman Ph.D memperlihatkan faktor-faktor yang terkait mengapa orang yang ber-IQ tinggi gagal dan ber-IQ sedang-sedang menjadi sangat sukses. Faktor-faktor ini mengacu pada suatu cara lain untuk menjadi cerdas-cara yang disebutnya kecerdasan emosional. Kecerdasan emosional mencakup kesadaran diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri, empati dan kecakapan sosial. Ini merupakan ciri-ciri yang menandai orang-orang yang menonjol dalam kehidupan nyata: yang memiliki hubungan dekat yang hangat, yang menjadi bintang di tempat kerjanya. Ini juga merupakan ciri-ciri utama karakter dan disiplin diri, altruisme dan belas kasih-kemampuan-kemampuan dasar yang dibutuhkan apabila kita mengharapkan terciptanya masyarakat yang sejahtera.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID Publisherjtptiain
OrganisasiFakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang
Nama KontakMiswan
AlamatJl. Prof. Dr. Hamka Km. 2 Ngaliyan
KotaSemarang
DaerahJawa Tengah
NegaraIndonesia
Telepon024 7603921
Fax024 7619100
E-mail Administratormiswant@yahoo.com
E-mail CKOar_mandka@yahoo.com

Print ...

Kontributor...

  • , Diupload oleh :

Download...


tumblr analytics

(Sejak 21 Juni 2010)
View My Stats