Path: Top / Skripsi / Syariah / 2005

Tinjauan Hukum Islam Tentang Hukum Anak Bekerja (Analisis Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak)

Undergraduate Theses from jtptiain / 2013-05-29 10:14:06
Oleh : c h u s n u n i a (2101044), Fak.Syari'ah IAIN Walisongo
Dibuat : 2005-08-12, dengan 3 file

Keyword : Islam,Hukum,Anak,Bekerja,UUPA
Url : http://

Sebagai bab yang paling akhir dari skripsi ini, maka penulis akan mengemukakan beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut:

1. Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, yakni agar anak yang dalam keadaan tereksploitasi secara ekonomi harus dilindungi oleh pemerintah. Bentuk-bentuk perlindungan terhadap antara lain dengan menjaga hak-hak anak (hak kelangsungan hidup, hak tumbuh kembang, hak untuk dilindungi dan hak untuk berpartisipasi)

2. Pemerintah berkewajiban bertanggung jawab memberikan perlindungan khusus kepada anak tereksploitasi secara ekonomi. Salah satu implementasi perlindungan khusus tersebut, pemerintah mengeluarkan Undang-undang No. 13 tahun 2003 yang mengatur tentang;

a. Syarat mempekerjakan anak yakni : Izin tertulis dari orang tua atau wali, perjanjian kerja antar pengusaha dengan orang tua atau wali, waktu kerja maksimum 3 (tiga) jam, dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah, keselamatan dan kesehatan kerja, adanya hubungan kerja yang jelas dan menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

b. Tempat layak anak bekerja, yakni: tempat kerja yang merupakan bagian bagian dari kurikulum pendidikan atau Pelatihan yang disyahkan oleh pejabat yang berwenang dan dalam hal anak yang dipekerjakan bersama-sama dengan pekerja/buruh dewasa, maka tempat kerja anak harus dipisahkan dari tempat kerja pekerja/buruh dewasa.

c. Pelarangan mempekerjakan anak pada jenis-jenis pekerjaan berbahaya pada anak. Yang dimaksud pekerjaan berbahaya pada anak antara lain: di pabrik-pabrik, yaitu pada ruangan yang tertutup atau yang dipandang sebagai tertutup, dimana digunakan satu alat atau lebih yang digerakkan dengan tenaga mesin, di tempat-tempat kerja yaitu pada ruangan yang tertutup dimana biasanya pada ruangan-ruangan tersebut dilakukan pekerjaan-pekerjaan tangan secara bersama-sama oleh sepuluh pekerja atau lebih, di tempat-tempat tertentu dimana dilakukan pembuatan, pemeliharan, pembetulan atau pembongkaran suatu bangunan di bawah tanah, pekerjaan galian, bangunan air, gedung dan jalan, pada perusahaan kereta api, pada pemuatan, pembongkaran dan pemindahan barang, baik di pelabuhan, dermaga dan galangan, maupun di stasiun tempat pemberhentian dan tempat pembongkaran dan tempat penumpukan barang atau gudang-gudang yang dalam hal ini dikecualikan jika barang-barangnya merupakan barang-barang jinjingan dan tidak terlalu berat.

Sedangkan dalam Islam, syarat-syarat sewa-menyewa tenagakerja adalah: Kerelaan dua belah pihak yang melakukan akad, mengetahui manfaat dengan sempurna barang yang diakadkan, sehingga mencegah terjadinya perselisihan, hendaklah barang yang menjadi obyek transaksi dapat dimanfaatkan kegunaannya menurut kriteria syara', dapat diserahkan sesuatu yang disewakan berikut kegunaannya, bahwa manfaat adalah hal yang mubah bukan yang diharamkan. selain itu baligh. Karena anak kecil yang belum dapat membedakan mana yang baik dan benar, maka akadnya tidak syah. Akan tetapi dalam hal pekerjaan yang ringan, walaupun belum baligh walau tanpa seizin wali, maka akadnya dianggap syah. Tetapi apabila pekerjaan itu banyak dan berat, maka anak kecil yang belum baligh tidak syah mengerjakannya, tanpa seizin wali, namun jika walinya mengizinkan maka tidak ada masalah.

3. Anak bekerja sudah membudaya dalam masyarakat, jika dilihat melalui Urf, maka telah memenuhi urf shaheh, yakni adanya unsur pelaksanaan yang berulang-ulang, dikenal khalayak ramai, dan tidak bertentangan dengan nash (al-Qur'an dan al-Hadis) sehingga akan menjadi norma hukum, artinya bahwa sudah jelas bahwa hukum anak bekerja adalah sah. Yang menjadi kelanjutan kewajiban adalah perlindungan terhadap anak bekerja itu sendiri. Karena anak bekerja adalah sama dengan anak-anak lain, yang mempunyai hak-hak sebagai anak sebagaimana anak tidak bekerja, maka pemerintah selaku penyelenggara negara dan kebutuhan warga negara, wajib pula menyelenggarakan perlindungan terhadap hak-hak anak dan ini wajib hukumnya, karena menyangkut kemaslahatan.

4. Ada relevansi antara ketentuan tentang perlindungan anak bekerja dan anak bekerja dalam Undang-undang No. 13 tahun 2002 dengan yang ada dalam hukum Islam. Terutama pada syarat-syarat jika dalam keadaan terpaksa anak bekerja dan/ dipekerjakan

Deskripsi Alternatif :

Sebagai bab yang paling akhir dari skripsi ini, maka penulis akan mengemukakan beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut:

1. Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, yakni agar anak yang dalam keadaan tereksploitasi secara ekonomi harus dilindungi oleh pemerintah. Bentuk-bentuk perlindungan terhadap antara lain dengan menjaga hak-hak anak (hak kelangsungan hidup, hak tumbuh kembang, hak untuk dilindungi dan hak untuk berpartisipasi)

2. Pemerintah berkewajiban bertanggung jawab memberikan perlindungan khusus kepada anak tereksploitasi secara ekonomi. Salah satu implementasi perlindungan khusus tersebut, pemerintah mengeluarkan Undang-undang No. 13 tahun 2003 yang mengatur tentang;

a. Syarat mempekerjakan anak yakni : Izin tertulis dari orang tua atau wali, perjanjian kerja antar pengusaha dengan orang tua atau wali, waktu kerja maksimum 3 (tiga) jam, dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu waktu sekolah, keselamatan dan kesehatan kerja, adanya hubungan kerja yang jelas dan menerima upah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

b. Tempat layak anak bekerja, yakni: tempat kerja yang merupakan bagian bagian dari kurikulum pendidikan atau Pelatihan yang disyahkan oleh pejabat yang berwenang dan dalam hal anak yang dipekerjakan bersama-sama dengan pekerja/buruh dewasa, maka tempat kerja anak harus dipisahkan dari tempat kerja pekerja/buruh dewasa.

c. Pelarangan mempekerjakan anak pada jenis-jenis pekerjaan berbahaya pada anak. Yang dimaksud pekerjaan berbahaya pada anak antara lain: di pabrik-pabrik, yaitu pada ruangan yang tertutup atau yang dipandang sebagai tertutup, dimana digunakan satu alat atau lebih yang digerakkan dengan tenaga mesin, di tempat-tempat kerja yaitu pada ruangan yang tertutup dimana biasanya pada ruangan-ruangan tersebut dilakukan pekerjaan-pekerjaan tangan secara bersama-sama oleh sepuluh pekerja atau lebih, di tempat-tempat tertentu dimana dilakukan pembuatan, pemeliharan, pembetulan atau pembongkaran suatu bangunan di bawah tanah, pekerjaan galian, bangunan air, gedung dan jalan, pada perusahaan kereta api, pada pemuatan, pembongkaran dan pemindahan barang, baik di pelabuhan, dermaga dan galangan, maupun di stasiun tempat pemberhentian dan tempat pembongkaran dan tempat penumpukan barang atau gudang-gudang yang dalam hal ini dikecualikan jika barang-barangnya merupakan barang-barang jinjingan dan tidak terlalu berat.

Sedangkan dalam Islam, syarat-syarat sewa-menyewa tenagakerja adalah: Kerelaan dua belah pihak yang melakukan akad, mengetahui manfaat dengan sempurna barang yang diakadkan, sehingga mencegah terjadinya perselisihan, hendaklah barang yang menjadi obyek transaksi dapat dimanfaatkan kegunaannya menurut kriteria syara', dapat diserahkan sesuatu yang disewakan berikut kegunaannya, bahwa manfaat adalah hal yang mubah bukan yang diharamkan. selain itu baligh. Karena anak kecil yang belum dapat membedakan mana yang baik dan benar, maka akadnya tidak syah. Akan tetapi dalam hal pekerjaan yang ringan, walaupun belum baligh walau tanpa seizin wali, maka akadnya dianggap syah. Tetapi apabila pekerjaan itu banyak dan berat, maka anak kecil yang belum baligh tidak syah mengerjakannya, tanpa seizin wali, namun jika walinya mengizinkan maka tidak ada masalah.

3. Anak bekerja sudah membudaya dalam masyarakat, jika dilihat melalui Urf, maka telah memenuhi urf shaheh, yakni adanya unsur pelaksanaan yang berulang-ulang, dikenal khalayak ramai, dan tidak bertentangan dengan nash (al-Qur'an dan al-Hadis) sehingga akan menjadi norma hukum, artinya bahwa sudah jelas bahwa hukum anak bekerja adalah sah. Yang menjadi kelanjutan kewajiban adalah perlindungan terhadap anak bekerja itu sendiri. Karena anak bekerja adalah sama dengan anak-anak lain, yang mempunyai hak-hak sebagai anak sebagaimana anak tidak bekerja, maka pemerintah selaku penyelenggara negara dan kebutuhan warga negara, wajib pula menyelenggarakan perlindungan terhadap hak-hak anak dan ini wajib hukumnya, karena menyangkut kemaslahatan.

4. Ada relevansi antara ketentuan tentang perlindungan anak bekerja dan anak bekerja dalam Undang-undang No. 13 tahun 2002 dengan yang ada dalam hukum Islam. Terutama pada syarat-syarat jika dalam keadaan terpaksa anak bekerja dan/ dipekerjakan

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID Publisherjtptiain
OrganisasiF
Nama KontakMiswan
AlamatJl. Prof. Dr. Hamka Km. 2 Ngaliyan
KotaSemarang
DaerahJawa Tengah
NegaraIndonesia
Telepon024 7603921
Fax024 7619100
E-mail Administratormiswant@yahoo.com
E-mail CKOar_mandka@yahoo.com

Print ...

Kontributor...

  • , Diupload oleh :

Download...


tumblr analytics

(Sejak 21 Juni 2010)
View My Stats