Path: Top / Skripsi / Ushuluddin / 2005

Metafisika Ibn Sina dan Idealisme Hegel (Sebuah Studi Komparatif)

Undergraduate Theses from jtptiain / 2013-05-01 08:39:01
Oleh : AHMAD FAUZI (4199125), Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo
Dibuat : 2004-05-27, dengan 2 file

Keyword : Metafisika; Ibn Sina; Idealisme; Hegel
Url : http://

Memunculkan kembali disiplin metafisika sebagai sebuah usaha intelektual akan memancing kritik dari sistem positifisme dan empirisme. Maka usaha pertama untuk mengangkat metafisika menjadi sistem yang mengandung kategori pengetahuan adalah menunjukkan sifat epistemologinya. Dalam hal ini, secara epistemologi, metafisika tentu akan mendapat rintangan yang kuat dari ilmu-ilmu positif dan empirik. Metafisika harus mengemukakan kembali kategori-kategori pengetahuan yang meyakinkan untuk memperoleh sifat dasar epistemologi. Pertama sebuah sistem pengetahuan yang meyakinkan dan kokoh tentulah harus mempunyai metodologi dan obyek pengetahuan. Untuk memenuhi kualifikasi ini, metafisika memiliki metodologi abstraksi yang bersifat logis dan rasional, meski kadang-kadang mengandung spekulasi, namun tanpa mengurangi daya analisisnya. Obyek metafisika adalah wujud atau hakikat dari sebuah realitas. Realitas ini diteliti sampai pada dasar-dasar keberadaannya yang paling elementer. Obyek seperti inilah yang sering sulit untuk diterima oleh kategori pengetahuan empirik dan positif. Epistemologi kritik-analitis yang dikemukakan oleh Kant, jelas-jelas menolak kategori pengetahuan metafisik. Pengetahuan metafisik dianggap melampaui batas-batas kategori formal dari epistemologi Kant. Karena diluar batas pengetahuan indrawi , mengakibatkan metafisika tidak bisa disebut pengetahuan Epistemologi Kant mengakibatkan konsekuensi yang luar biasa bagi ilmu pengetahuan yang mempunyai obyek pengetahuan non-indrawi , semisal psikologi, sejarah, hermeneutika dan pengalaman keagamaan dari obyek studi agama. Usaha pertama yang dilakukan penulis dalam skripsi ini adalah menunjukkan sifat dan watak esensial dari sebuah wujud, yaitu dalam pemikiran metafisika Ibn Sina dan Hegel. Untuk menyanggah keberatan atas epistemologi Kant yang mempunyai pengandaian terselubung dari superioritas ilmu-ilmu alam adalah memperlihatkan bahwa hakekat benda tidaklah mempunyai asal-usul yang bersifat fisik atau material. Sebagaimana diungkapkan dalam penelitian genom dan partikel oleh para biolog dan fisikawan kontemporer yang menyatakan bahwa sifat dari partikel adalah bukanlah bersifat material, fisik murni atau gelombang melainkan menyerupai wujud spiritual atau mental. Dengan penemuan partikel Spin-off dalam eksperimentasi partikel elementer, semakin mengukuhkan bahwa hakekat benda adalah pikiran atau spiritual. Hakekat ini bukan berarti lalu menafikan sifat epistemologi Kant. Karena, dunia sehari-hari ini lebih bisa ditunjukkan oleh pikiran dalam bentuk materi-empirik. Hasil penelitian para ahli DNA juga menunjukkan bahwa tidaklah mungkin sebuah benda atau materi dapat mewujudkan sistem genom yang sangat begitu rumit dan sempurna. Hal ini hanya bisa dimungkinkan oleh sebuah proses mental dari intellectual design. Metafisika sebagai disiplin ilmu purba, harus merumuskan kembali disiplinnya untuk didekatkan dengan fisika modern. Ia dapat menanggapi kebutuhan fisika besar yang selama ini sulit menjawab bagaimana keterkaitan antara materi jagat raya dengan adanya Tuhan. Peralatan intelektual empiris ternyata memiliki keterbatasan dalam menjelaskan antara hal yang bersifat ilahiyah berkaitan dengan materi fisik ciptaan-Nya. Penulis dalam hal ini menunjukkan metafisika Ibn Sina dan Hegel untuk mengisi kekurangan ini. Dengan sifat watak essensial obyek pengetahuan ini, memungkinkan bagi pengalaman keagamaan untuk memformulasikan diri menjadi kategori pengetahuan yang lebih meyakinkan dari pada sebelumnya. Ini kemudian berimplikasi pada sifat iman yang lebih bersifat emosional menjadi elan vital yang bersifat kognitif. Metafisika, dengan usaha intelektualnya berusaha melampaui kategori inderawi , karena sifat dan watak essensial akal yang selalu menerobos keterbatasannya sendiri. Dengan penjelasan diatas, akhirnya metafisika dimungkinkan untuk memperoleh status epistemologi walaupun tidak sekokoh positifisme.

Deskripsi Alternatif :

Memunculkan kembali disiplin metafisika sebagai sebuah usaha intelektual akan memancing kritik dari sistem positifisme dan empirisme. Maka usaha pertama untuk mengangkat metafisika menjadi sistem yang mengandung kategori pengetahuan adalah menunjukkan sifat epistemologinya. Dalam hal ini, secara epistemologi, metafisika tentu akan mendapat rintangan yang kuat dari ilmu-ilmu positif dan empirik. Metafisika harus mengemukakan kembali kategori-kategori pengetahuan yang meyakinkan untuk memperoleh sifat dasar epistemologi. Pertama sebuah sistem pengetahuan yang meyakinkan dan kokoh tentulah harus mempunyai metodologi dan obyek pengetahuan. Untuk memenuhi kualifikasi ini, metafisika memiliki metodologi abstraksi yang bersifat logis dan rasional, meski kadang-kadang mengandung spekulasi, namun tanpa mengurangi daya analisisnya. Obyek metafisika adalah wujud atau hakikat dari sebuah realitas. Realitas ini diteliti sampai pada dasar-dasar keberadaannya yang paling elementer. Obyek seperti inilah yang sering sulit untuk diterima oleh kategori pengetahuan empirik dan positif. Epistemologi kritik-analitis yang dikemukakan oleh Kant, jelas-jelas menolak kategori pengetahuan metafisik. Pengetahuan metafisik dianggap melampaui batas-batas kategori formal dari epistemologi Kant. Karena diluar batas pengetahuan indrawi , mengakibatkan metafisika tidak bisa disebut pengetahuan Epistemologi Kant mengakibatkan konsekuensi yang luar biasa bagi ilmu pengetahuan yang mempunyai obyek pengetahuan non-indrawi , semisal psikologi, sejarah, hermeneutika dan pengalaman keagamaan dari obyek studi agama. Usaha pertama yang dilakukan penulis dalam skripsi ini adalah menunjukkan sifat dan watak esensial dari sebuah wujud, yaitu dalam pemikiran metafisika Ibn Sina dan Hegel. Untuk menyanggah keberatan atas epistemologi Kant yang mempunyai pengandaian terselubung dari superioritas ilmu-ilmu alam adalah memperlihatkan bahwa hakekat benda tidaklah mempunyai asal-usul yang bersifat fisik atau material. Sebagaimana diungkapkan dalam penelitian genom dan partikel oleh para biolog dan fisikawan kontemporer yang menyatakan bahwa sifat dari partikel adalah bukanlah bersifat material, fisik murni atau gelombang melainkan menyerupai wujud spiritual atau mental. Dengan penemuan partikel Spin-off dalam eksperimentasi partikel elementer, semakin mengukuhkan bahwa hakekat benda adalah pikiran atau spiritual. Hakekat ini bukan berarti lalu menafikan sifat epistemologi Kant. Karena, dunia sehari-hari ini lebih bisa ditunjukkan oleh pikiran dalam bentuk materi-empirik. Hasil penelitian para ahli DNA juga menunjukkan bahwa tidaklah mungkin sebuah benda atau materi dapat mewujudkan sistem genom yang sangat begitu rumit dan sempurna. Hal ini hanya bisa dimungkinkan oleh sebuah proses mental dari intellectual design. Metafisika sebagai disiplin ilmu purba, harus merumuskan kembali disiplinnya untuk didekatkan dengan fisika modern. Ia dapat menanggapi kebutuhan fisika besar yang selama ini sulit menjawab bagaimana keterkaitan antara materi jagat raya dengan adanya Tuhan. Peralatan intelektual empiris ternyata memiliki keterbatasan dalam menjelaskan antara hal yang bersifat ilahiyah berkaitan dengan materi fisik ciptaan-Nya. Penulis dalam hal ini menunjukkan metafisika Ibn Sina dan Hegel untuk mengisi kekurangan ini. Dengan sifat watak essensial obyek pengetahuan ini, memungkinkan bagi pengalaman keagamaan untuk memformulasikan diri menjadi kategori pengetahuan yang lebih meyakinkan dari pada sebelumnya. Ini kemudian berimplikasi pada sifat iman yang lebih bersifat emosional menjadi elan vital yang bersifat kognitif. Metafisika, dengan usaha intelektualnya berusaha melampaui kategori inderawi , karena sifat dan watak essensial akal yang selalu menerobos keterbatasannya sendiri. Dengan penjelasan diatas, akhirnya metafisika dimungkinkan untuk memperoleh status epistemologi walaupun tidak sekokoh positifisme.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID Publisherjtptiain
OrganisasiFakultas Ushuluddin IAIN Walisongo
Nama KontakMiswan
AlamatJl. Prof. Dr. Hamka Km. 2 Ngaliyan
KotaSemarang
DaerahJawa Tengah
NegaraIndonesia
Telepon024 7603921
Fax024 7619100
E-mail Administratormiswant@yahoo.com
E-mail CKOar_mandka@yahoo.com

Print ...

Kontributor...

  • , Diupload oleh :

Download...


tumblr analytics

(Sejak 21 Juni 2010)
View My Stats